Sebagian dari kita mungkin sudah tidak awam lagi dengan yang namanya Sampah, ya bahan terbuang atau dibuang hasil aktifitas manusia ini kerap menjadi bahan pembicaraan yang tidak ada habisnya setiap hari. Terutama disaat Sampah menjadi penyebab utama permasalahan lingkungan. Masalah ini timbul dikarenakan sampah yang menumpuk dan tidak sebanding dengan kapasitas pengolahan yang ada. Menyadari kurangnya kesadaran masyarakat untuk memelihara ataupun mejaga lingkungan terutama dalam pemilahan sampah yang benar sebelum terbuang, ini menyebabkan masalah yang lebih berat untuk diselesaikan. Kementrian Lingkungan Hidup mencatat rata-rata penduduk Indonesia menghasilkan sekitar 2,5 liter sampah per hari atau 625 juta liter dari jumlah total penduduk. Jakarta sendiri menyumbang sampah sekitar 7,000 ton setiap harinya berdasarkan data dari Dinas Kebersihan. Dalam upaya untuk memahami permasalahan sampah di Indonesia, Pasukan Bijak Sampah melakukan blusukan ke daerah Manggarai pekan lalu (27/03) dan diakhiri dengan diskusi bersama komunitas muda peduli Lingkungan, Gropesh.
 |
| Pahlawan Sampah di Salah Satu Lapak daerah Manggarai |
'Blusukan' ini merupakan aksi langsung terjun lapangan untuk mewujudkan Indonesia Bebas Sampah 2020 dengan melakukan mapping atau pendataan terkait sektor informal solusi pengolahan Sampah seperti Bank Sampah, Lapak, Reparasi, dan Rumah Pengomposan. Hasil dari perjalanan blusukan, Kami banyak menjumpai lapak-lapak besar yang melakukan transaksi jual-beli sampah dari para pengepul ataupun pemulung disekitar Manggarai Sampah yang terkumpul di lapak ini akan kembali dijual untuk dilakukan peleburan atau didaur ulang, ada yang dikirim ke Bekasi, Cengkareng, Pulogadung dan juga Sunter. Lokasi pengiriman tergantung kembali kepada jenis sampah yang dikumpulkan. Bisakah kalian menebak berapa harga yang biasa diterima pemulung untuk satu karung botol plastik transparant? Ya hanya 3000rupiah harga yang mungkin terbilang sangat kecil dibanding dengan harga jual botol mineral itu sendiri, tapi ini salah satu fakta menarik yang kita temukan dilapangan.
 |
| Perjalanan Blusukan Pasukan Bijak Sampah di Manggarai |
Semua data yang kita kumpulkan dilapangan bisa langsung diakses di
www.bebassampah.id. Portal ini menjadi sumber harapan untuk mendapatkan akses mudah terhadap tempat pengolahan sampah disekitar lingkungan tempat tinggal kita, lebih baik sampah plastik, barang bekas seperti kertas, tembaga, kuningan, besi atau lainnya untuk langsung disumbangkan atau dijual ketempat pengolahan yang lebih jelas untuk menghindari penumpukan volume sampah yang lebih besar. Selain blusukan ini, kita juga melakukan pertemuan dengan para komunitas yang bergerak dibidang Lingkungan. Gropesh salah satu komunitas lingkungan yang sudah lama terbentuk sejak tahun 2007 didirikan oleh rohaniawan Katolik, Romo Andang. Diwakili oleh Kukuh Prastyo menceritakan bagaimana Gropesh awalnya memulai dari kegiatan Keuskupan Agung Jakarta hingga menjadi komunitas besar yang memiliki misi untuk meng-edukasi anak muda untuk lebih peduli terhadap sampah diluar batasan agama apapun.
 |
| Pasukan Bijak Sampah Blusukan dengan Gropesh! |
Kukuh mengungkapkan kerap kali mereka suka dicap sebagai "Tukang Sampah" dikarenakan kepedulian mereka terhadap sampah yang sangat besar, tapi dengan melibatkan mereka langsung sebagai tim Gropesh dalam pelaksanaan acara pemikiran tersebut akhirnya memudar karena mereka sudah semakin sadar akan pentingnya tidak membuang sampah sembarangan. Selama ini Gropesh sudah melakukan banyak kegiatan seperti membuat Lubang Biospori Suropati, Pembersihan Kali Ciliwung dan juga adanya advokasi lingkungan terhadap Ibu-ibu PKK. Dalam bentuk monitoring setiap kegiatan yang mereka lakukan, mereka rutin melakukan pengecekan secara langsung maupun telfon terhadap warga yang dituju. Dalam pertemuan singkat kami, kita juga sempat membahas tentang kebijakan kantong plastik berbayar. Kebijakan ini belum menjadi solusi effektif dalam penanggulangan sampah, penting adanya peganti seperti paper bag yang disediakan langsung dari pihak swalayan. Terlebih harga 200 rupiah terbilang sangat murah dan belum cukup menggerakan masyarakat untuk mebawa kantung belanjaan sendiri ataupun mengurangi pengunaan plastik. Tercatat saat ini Gropesh memiliki 200 members dan 50 tim aktif, untuk lebih mengulik Gropesh secara dalam bisa langsung mem-follow twitter mereka
disini. Yuk sama-sama bergerak untuk lebih bertangung jawab dalam pembuangan sampah masing-masing, kami sangat peduli akan lingkungan sebagai rumah kita satu-satunya lalu bagaimana dengan Kalian? :)